Halo, sobat Edupac! Jika kamu diberikan pilihan untuk memilih kuliah di dalam negeri atau di luar negeri, kira-kira mana yang akan kamu pilih? Tentu jawabannya akan berbeda setiap individu.
Jika kamu ingin mendapatkan peluang yang lebih besar dari segi karir maupun ilmu, mungkin studi ke luar negeri merupakan pilihan yang tepat untuk kamu. Bukan karena kami agent yang akan membantu kamu studi ke luar negeri dan mendapatkan keuntungan dari itu, melainkan lebih kepada banyaknya benefit yang akan kamu dapatkan untuk masa depan yang lebih baik.
Di artikel kali ini kita akan membahas mengenai benefit atau keuntungan apa saja yang akan kamu dapatkan jika kamu memilih untuk studi ke luar negeri. Biar kamu tambah yakin untuk memilih mana yang sebenarnya perlu kamu pilih! Without any further ado let’s get started!
Bagaimana Peluang Karir Setelah Lulus?

Kebanyakan seseorang mengambil kuliah, karena mereka beranggapan bahwa menjadi sarjana bisa bekerja di perusahaan besar dan mendapatkan gaji yang tinggi. Intinya adalah, banyak yang beranggapan dengan kuliah bisa memiliki peluang karir yang baik. Jika misalnya seperti itu, mohon maaf fakta di Indonesia tidak seindah itu.
Nizam, selaku Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi melalui website dikti.kemdikbud.go.id (2023) mengatakan bahwa setiap tahunnya Indonesia meluluskan 1.7 juta lulusan perguruan tinggi baik sarjana maupun diploma. “Sementara itu, jumlah pertumbuhan lapangan pekerjaan kita tidak sebanding dengan angka lulusan perguruan tinggi setiap tahunnya”, ungkap Nizam.
Fakta lainnya lagi, berdasarkan laporan dari Satu Data Kemnaker dalam Buku Ketenagakerjaan Dalam Data (2024) ada tabel di halaman 104 mengungkapkan bahwa orang dengan level pendidikan Diploma IV/S1/S2/S3 di Indonesia total ada 787.973 orang dengan level pendidikan Diploma IV/S1/S2/S3, dimana mereka ada yang masih mencari kerja (698.299), mempersiapkan usaha (21.001), sudah putus asa merasa tidak mungkin dapat kerja (34.847), dan ada yang sudah diterima bekerja tetapi belum mulai bekerja (33.826).
Tidak hanya itu, taukah kamu berapa banyak lowongan pekerjaan yang ada di Indonesia? Berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik atau BPS (2024) jumlah lowongan kerja di seluruh Indonesia tercatat ada 630.672 lowongan. Lowongan kerja paling banyak ada di provinsi Jawa Barat (148.663), Jawa Timur (64.669), dan DKI Jakarta (61.030).
Dari kedua data tersebut saja (buku ketenagakerjaan dan BPS), kalau misalnya lulusan perguruan tinggi di Indonesia mau kerja di perusahaan semua, negara tidak memiliki cukup lowongan untuk kita. Lalu, lowongan kerja tersebut belum tentu berada di kota besar seperti Jabodetabek yang menjadi keinginan banyak orang.
Masih ingat hukum ekonomi soal supply demand? Karena kamu bekerja, maka anggap saja kamu menawarkan jasa kepada perusahaan. Ketika permintaan terhadap suatu jasa semakin sedikit, maka harganya akan mahal. Di sisi lain, ketika permintaan terhadap suatu jasa semakin banyak, maka harganya akan murah. Berdasarkan fakta yang kami sebutkan diatas, apakah kamu yakin ketika lulus kuliah dalam negeri gaji kamu akan tinggi? Kalau kamu kuliah di luar negeri, kamu mungkin masih bisa mendapatkan pekerjaan disana. Kamu tinggal cari saja negara yang kekurangan tenaga kerja, salah satu contohnya adalah Jepang atau Jerman.
Kapan Biaya Kuliah di Luar Negeri Bisa Kembali?

Banyak yang beranggapan kalau kuliah di luar negeri itu mahal dan biaya hidupnya tinggi. Ya, pemikiran tersebut ada benarnya. Tapi, apakah kamu sudah menghitung potensi imbal hasilnya? ROI atau Return of Investment adalah rasio antara apa yang kamu investasikan (uang, waktu, tenaga) dengan keuntungan yang diperoleh (gaji, jaringan, peluang karier) dalam jangka panjang.
Mari bandingkan biaya kuliah Sistem Informasi di dua universitas terbaik versi Indonesia dan Australia:
| Parameter | UI (Indonesia) | University of Melbourne (Australia) |
| Biaya per semester/tahun |
Rp14.081.000/semester | $56.992/tahun (≈ Rp604.108.930)* |
| Durasi studi | 4 tahun | 3 tahun (Bachelor of Science) |
| Total biaya kuliah | Rp 112.648.000 | Rp 1.812.326.790 |
*Kurs AUD-IDR: 1 AUD ≈ 10.600 IDR (Mei 2025).
Anggaplah, setelah lulus kuliah sistem informasi kamu bekerja menjadi software developer. Berdasarkan informasi dari job portal www.seek.com.au (2025), kamu akan mendapatkan gaji minimal A$80.000 per tahun atau sekitar Rp. 848.375.200 per tahun. Sementara itu, berdasarkan id.jobstreet.com (2025), gaji paling minim untuk software developer di Jakarta sekitar Rp 6.250.000 per bulan atau Rp. 75.000.000 per tahun.
Waktu balik modal, jika seluruh gaji dipakai untuk menutupi biaya kuliah:
- Indonesia: 112.648.000 / 75.000.000 = 1,5 tahun.
- Australia: 1.812.326.790 / 848.375.200 = 2,1 tahun.
Secara angka, lulusan Indonesia seolah lebih cepat balik modal. Namun, ini tidak realistis karena:
- Di Jakarta, biaya hidup rata-rata (kos, makan, transportasi) bisa menghabiskan Rp5-6 juta/bulan, sehingga tabungan bersih hanya Rp0–1,25 juta/bulan. Dengan asumsi tabungan Rp1 juta/bulan, balik modal butuh 9 –10 tahun.
- Sementara itu, di Australia, meski biaya hidup tinggi (sekitar Rp30–40 juta/bulan), tabungan bersih dari gaji Rp848 juta/tahun bisa mencapai Rp300–400 juta/tahun, sehingga balik modal tetap bisa tercapai dalam 4–5 tahun.
Perbedaan utama terletak pada rasio gaji terhadap biaya hidup dan potensi tabungan yang jauh lebih menguntungkan di Australia. Di Jakarta, gaji bulanan software developer hanya sekitar Rp6,25 juta, sedangkan biaya hidup rata-rata mencapai Rp5,5 juta/bulan. Artinya, gaji hanya 1,1 kali lipat dari pengeluaran, menyisakan tabungan bersih yang sangat minim (sekitar Rp750.000–Rp1,25 juta/bulan). Dengan tabungan ini, dibutuhkan hampir 10 tahun untuk menutupi biaya kuliah Rp112 juta.
Sebaliknya, di Australia, gaji tahunan software developer mencapai Rp848 juta (≈Rp70,7 juta/bulan), sementara biaya hidup bulanan rata-rata sekitar Rp35 juta. Rasio gaji terhadap biaya hidup di sini mencapai 2 kali lipat, memungkinkan tabungan bersih hingga Rp428 juta/tahun (≈Rp35,7 juta/bulan). Dengan kemampuan menabung sebesar ini, biaya kuliah Rp1,8 miliar bisa kembali dalam 4–5 tahun.
Dari Segi Kualitas Pendidikan, Mana yang Lebih Baik?

Kualitas pendidikan suatu perguruan tinggi kerap diukur melalui peringkat global seperti QS World University Rankings (QS WUR), Times Higher Education (THE), atau US News & World Report. Berdasarkan QS WUR 2025, Universitas Indonesia (UI) — perguruan tinggi terbaik di Tanah Air — berada di peringkat 206 dunia. Posisi ini patut diapresiasi, namun masih tertinggal jauh dibandingkan universitas-universitas top di negara berbahasa Inggris seperti Amerika Serikat atau Inggris Raya yang mendominasi 50 besar. Mengapa demikian?
Salah satu faktor kuncinya adalah dominasi bahasa Inggris sebagai medium utama dalam publikasi ilmiah. Jurnal-jurnal bereputasi tinggi tempat temuan akademik terbaru dipublikasikan, hampir seluruhnya menggunakan bahasa Inggris. Akibatnya, inovasi terkini contohnya Artificial Intelligence lebih cepat berkembang di kampus-kampus dengan akses langsung ke sumber pengetahuannya.
Di Indonesia, meskipun topik-topik AI ini mulai diajarkan, kedalaman materi dan fasilitas risetnya masih terbatas. Salah satu tantangan utamanya adalah kebutuhan akan high-performance computing, seperti GPU generasi terbaru, yang masih sulit diakses dalam negeri. Bukan berarti tidak bisa dipelajari di dalam negeri, tetapi studi ke luar negeri memberikan akses lebih lengkap ke kurikulum terkini, mentor ahli, dan ekosistem teknologi yang mendukung penguasaan bidang tersebut secara holistik.
Pilihan Program Studi dalam Negeri, Apakah Lengkap?

Baru‑baru ini World Economic Forum merilis Future of Jobs Report terbaru 2025, yang memberikan wawasan tentang bagaimana ekosistem pekerjaan akan berkembang di masa yang akan datang. Laporan itu memperkirakan bahwa pada periode 2025–2030 akan tercipta sekitar 170 juta lapangan kerja baru dan 92 juta pekerjaan hilang akibat transformasi struktur pasar kerja. Peluang terbesar diproyeksikan muncul di bidang teknologi—khususnya AI dan pemrosesan informasi (Big Data, GenAI, dll), dengan sekitar 11 juta lowongan baru (hal. 25).
Pertanyaan kami sederhana, ada berapa banyak universitas dalam negeri yang menawarkan jurusan artificial intelligence dan data science (khususnya big data)? Terutama untuk jurusan AI, karena tren Generative AI baru meledak akhir 2022 saat ChatGPT dibuka untuk publik, sehingga hanya segelintir perguruan tinggi dalam negeri yang telah menawarkan jurusan ini. Itu artinya, untuk ilmu pengetahuan yang cenderung baru kamu hanya bisa dapatkan secara menyeluruh dengan kuliah di luar negeri.
Penutup
Jadi, Sobat Edupac, memilih antara kuliah di dalam negeri atau luar negeri bukan sekadar pertanyaan “mana yang lebih murah”, melainkan “mana yang lebih membuka pintu masa depanmu”. Dari informasi yang telah kami berikan diatas, secara data dan fakta studi ke luar negeri lebih memberikan banyak benefit untuk masa depan kamu. Baik itu dari segi peluang karir, return of investment (ROI), kualitas pendidikan, hingga akses ke ilmu terkini.
Butuh konsultasi terkait kuliah di luar negeri? WhatsApp kami dengan klik tombol berikut ini:
Jangan lupa untuk follow media sosial kami, agar kamu tidak ketinggalan informasi beasiswa, promo, event, dan lain sebagainya. Klik link berikut untuk menuju media sosial kami:
- Instagram: @edupacindonesia
- Facebook: @EdupacIndonesiaHQ.
Ikuti terus artikel kami selanjutnya, Thank You!

