Halo, Sobat Edupac! Saat mendengar kata STEM — singkatan dari Science, Technology, Engineering, and Mathematics — tidak sedikit yang berpikir bahwa bidang ini lebih cocok untuk laki-laki. Eits, tapi jangan salah loh. Walaupun perempuan dalam dunia STEM kurang mendapat perhatian, padahal ada begitu banyak sosok perempuan hebat yang telah memperoleh prestasi luar biasa di bidang ini. Bahkan, beberapa di antara mereka berhasil meraih penghargaan Nobel berkat kontribusinya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mulai dari penelitian di laboratorium hingga penjelajahan luar angkasa, mereka membuktikan bahwa kecerdasan, kreativitas, dan semangat tidak dibatasi oleh gender. Pada artikel kali ini, kami ingin memperkenalkan 10 perempuan yang memiliki peran besar di bidang STEM. Tujuan kami membuat artikel ini untuk memberikan semangat dan motivasi untuk perempuan Indonesia yang cerdas dan pintar yang ingin kuliah dan berkarir di bidang STEM. Siapa tahu setelah membaca artikel ini, kamu terinspirasi untuk menjadi ilmuwan hebat atau bahkan peraih Nobel berikutnya! Nah, siapa saja itu? Simak daftar tokohnya berikut ini:
Marie Curie

Penemu radium dan polonium, serta pionir penelitian radioaktivitas.
Marie Curie adalah pelopor riset radioaktivitas yang menemukan unsur polonium dan radium, serta menciptakan metode pemisahan isotop radioaktif yang memungkinkan studi dan pemanfaatan unsur-unsur tersebut. Dia adalah orang pertama yang meraih dua hadiah Nobel (Fisika 1903 bersama Pierre Curie dan Henri Becquerel; Kimia 1911 untuk isolasi radium), mendirikan Institut Curie sebagai pusat penelitian dan mendorong penggunaan radiasi dalam pengobatan (termasuk unit X-ray keliling saat Perang Dunia I). Karyanya merombak pemahaman tentang inti atom, membuka jalan bagi radioterapi, nuklir, dan biokimia modern, meski paparan radiasi dalam hidupnya akhirnya merenggut nyawanya. (nobelprize.org, 2025)
Pengaruhnya masih terasa hingga saat ini, mulai dari penelitian nuklir, pengembangan terapi radiasi, pemahaman tentang struktur atom, hingga penerapan teknologi medis seperti radioterapi dan deteksi kanker. Semua hal tersebut berakar pada penemuan dan kerja yang dilakukan oleh Marie Curie dan rekan-rekannya.
Ada Lovelace

Programmer komputer pertama di dunia, membuka jalan bagi ilmu komputer modern.
Ada Lovelace lahir pada 10 Desember 1815 di London dan dikenal sebagai orang pertama yang membuat program komputer. Dia bekerja sama dengan Charles Babbage untuk mengembangkan Analytical Engine, mesin yang menjadi dasar dari komputer modern. Pada tahun 1843, Lovelace menulis penjelasan tentang bagaimana mesin itu bisa mengikuti langkah-langkah tertentu untuk menghitung angka secara otomatis. Dia bahkan membayangkan bahwa suatu hari komputer bisa digunakan bukan hanya untuk angka, tapi juga untuk hal-hal lain. Walaupun mesin tersebut tidak pernah selesai dibuat, ide-ide Lovelace menjadi dasar bagi dunia komputer saat ini. Dia meninggal pada usia 36 tahun karena kanker, dan namanya dikenang setiap Ada Lovelace Day untuk menghargai peran perempuan dalam sains dan teknologi. (britannica.com, 2025)
Grace Hopper

Perintis bahasa pemrograman (COBOL) dan konsep compiler.
Grace Hopper adalah ilmuwan komputer dan perwira Angkatan Laut Amerika Serikat yang dikenal sebagai pelopor pengembangan bahasa pemrograman dan konsep compiler. Dia menciptakan compiler pertama yang mampu menerjemahkan instruksi berbasis bahasa manusia menjadi kode yang dapat dijalankan komputer. Inovasinya ini menjadi dasar lahirnya FLOW-MATIC, yang kemudian menginspirasi bahasa pemrograman COBOL (Common Business-Oriented Language). Berkat visinya, komputer menjadi lebih mudah digunakan oleh banyak orang, tidak hanya oleh ilmuwan atau ahli matematika, menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah komputasi modern. (britannica.com, 2025)
Bisa dikatakan, tanpa Ada Lovelace dan Grace Hopper, dunia komputer modern tidak akan seperti sekarang. Lovelace merintis konsep pemrograman, sementara Hopper mewujudkannya lewat compiler dan bahasa pemrograman yang mudah dipahami manusia.
Rosalind Franklin

Karyanya tentang difraksi sinar-X menjadi dasar penemuan struktur heliks ganda DNA.
Rosalind Franklin adalah ilmuwan asal Inggris yang berjasa besar dalam memahami bentuk dan struktur molekul. Saat bekerja di King’s College London pada tahun 1951, ia menggunakan teknik difraksi sinar-X untuk memotret DNA dan berhasil mendapatkan gambar yang sangat jelas. Dari hasil itu terlihat bahwa DNA memiliki bentuk seperti spiral dengan bagian fosfat berada di sisi luar. Penelitiannya menjadi dasar bagi model DNA berbentuk heliks ganda yang kemudian dikembangkan oleh James Watson dan Francis Crick. Sebelum itu, struktur DNA belum jelas, dan gambar Franklin membantu ilmuwan lain memahami bagaimana DNA menyimpan dan menyalin informasi genetik. (britannica.com, 2025)
Penelitiannya menjadi dasar biologi molekuler modern dan kemajuan di genetika, kedokteran, dan bioteknologi. Tanpa jasanya, pemahaman tentang kehidupan di tingkat molekul tidak akan berkembang secepat sekarang. Meskipun karyanya sangat penting, Franklin tidak menerima Nobel karena wafat sebelum penghargaan diberikan, namun warisannya tetap menjadi inspirasi besar bagi ilmuwan perempuan dan penelitian lanjutan di bidang genetika dan biologi molekuler. (kcl.ac.uk, 2025)
Jennifer Doudna & Emmanuelle Charpentier

Penemu teknologi CRISPR-Cas9, alat revolusioner dalam pengeditan gen.
Jennifer Doudna dan Emmanuelle Charpentier adalah ilmuwan yang merevolusi bioteknologi melalui penemuan alat pengedit gen CRISPR-Cas9. Pada tahun 2012, mereka menunjukkan bahwa sistem pertahanan bakteri dapat diprogram untuk memotong dan mengubah DNA dengan sangat presisi. Teknologi ini memungkinkan ilmuwan menghapus, menambah, atau mengganti gen pada sel hewan dan tumbuhan, membuka peluang baru bagi pengobatan penyakit genetik serta pengembangan tanaman tahan hama. Atas kontribusinya, keduanya meraih Hadiah Nobel Kimia 2020, menandai era baru di mana DNA dapat “ditulis ulang” dengan akurasi tinggi. (britannica.com, 2025)
Katherine Johnson

Matematikawan NASA yang menghitung lintasan penerbangan penting untuk misi Mercury dan Apollo.
Katherine Johnson adalah ahli matematika asal Amerika yang berperan penting dalam keberhasilan misi luar angkasa NASA. Pada masa ketika komputer masih jarang digunakan, ia melakukan perhitungan lintasan penerbangan secara manual, termasuk untuk penerbangan Alan Shepard (1961), John Glenn (1962), dan misi Apollo 11 yang pertama kali membawa manusia ke bulan. Karya dan ketelitiannya dalam matematika menjadi fondasi penting bagi keselamatan dan kesuksesan misi luar angkasa. (nationalgeographic.com, 2025)
Selain itu, dia membuka jalan bagi perempuan dan orang non-kulit putih di bidang sains dan teknologi (yang sebelumnya sangat tertutup), membuktikan bahwa kemampuan tidak ditentukan oleh ras atau gender. Melalui dedikasinya, Katherine Johnson menginspirasi banyak generasi muda untuk berani bermimpi dan berkarier di dunia STEM. (nasa.gov, 2025)
Dorothy Crowfoot Hodgkin

Peraih Nobel Kimia atas pemetaan struktur biomolekul seperti insulin dan vitamin B12.
Dorothy Crowfoot Hodgkin adalah ilmuwan yang menemukan cara melihat bentuk molekul dengan sangat detail menggunakan sinar-X. Karena teknik ini, dia berhasil mengetahui struktur tiga zat penting: penisilin yang menjadi dasar antibiotik, vitamin B12 yang penting bagi kesehatan tubuh, dan insulin yang digunakan untuk mengobati diabetes. Penemuan-penemuan ini membantu para ilmuwan memahami bagaimana obat bekerja di dalam tubuh dan mendorong kemajuan besar di bidang kimia dan kedokteran. Atas jasanya, dia dianugerahi Nobel Kimia pada tahun 1964. (nobelprize.org, 2025)
Rita Levi-Montalcini

Ahli saraf Italia yang menemukan nerve growth factor (NGF).
Rita Levi-Montalcini adalah ilmuwan saraf asal Italia yang menemukan nerve growth factor (NGF), protein penting yang mengatur pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel saraf. Penemuan ini berawal dari eksperimennya pada 1950-an, ketika ia menanam jaringan tumor tikus ke embrio ayam dan melihat adanya pertumbuhan saraf yang sangat cepat. Temuannya membuktikan bahwa ada zat khusus yang memicu pembentukan saraf, membuka jalan bagi pemahaman baru tentang cara kerja otak dan sistem saraf (nobelprize.org, 2025).
Penemuan NGF dari Rita Levi-Montalcini berperan besar dalam riset penyakit seperti Alzheimer dan Parkinson. Atas jasanya, ia meraih Nobel Fisiologi atau Kedokteran tahun 1986 dan menjadi inspirasi bagi banyak perempuan di dunia sains. (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov, 2025)
Hedy Lamarr

Menciptakan teknologi frequency hopping yang menjadi dasar Wi-Fi dan Bluetooth modern.
Hedy Lamarr dikenal sebagai aktris Hollywood, tetapi ia juga seorang penemu jenius. Bersama komponis George Antheil, dia menciptakan sistem “frequency hopping” pada tahun 1942, yaitu teknik yang membuat sinyal radio berpindah-pindah frekuensi agar sulit disadap atau diganggu. Awalnya ide ini dibuat untuk mengamankan komunikasi torpedo saat Perang Dunia II, namun teknologi dasarnya baru digunakan bertahun-tahun kemudian dan menjadi fondasi bagi Wi-Fi, Bluetooth, dan GPS modern. (history.com, 2025)
Hedy Lamarr membuktikan bahwa inovasi besar bisa lahir dari siapa saja, bahkan di luar bidang teknik. Dia juga menunjukkan bahwa penemuan ilmiah tidak selalu harus berasal dari lembaga besar atau para ahli, tetapi bisa muncul dari kreativitas dan rasa ingin tahu.
Tu Youyou

Penemu artemisinin, obat malaria yang telah menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia.
Tu Youyou adalah ilmuwan asal Tiongkok yang menemukan artemisinin, obat antimalaria yang telah menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia. Penemuan ini lahir dari proyek riset rahasia pada 1960-an, ketika ia meneliti ribuan resep pengobatan tradisional untuk mencari senyawa yang efektif melawan malaria. Dari tanaman Artemisia annua, ia berhasil mengisolasi zat aktif artemisinin menggunakan metode ekstraksi suhu rendah yang menjaga khasiatnya. Temuannya menjadi dasar utama dalam pengobatan malaria modern, bahkan digunakan dalam terapi yang direkomendasikan oleh WHO. (britannica.com, 2025)
Penutup
Nah itulah 10 perempuan yang memiliki peran besar di bidang STEM. Setelah kami melakukan pencarian mendalam lewat internet, masih belum ada warga negara Indonesia asli yang pernah memenangkan hadiah Nobel di bidang sains, teknologi, teknik, atau kedokteran (STEM). Jangankan perempuan yang lebih spesifik, laki-laki Indonesia saja belum ada yang pernah meraih Nobel. Mungkin kamu akan jadi yang pertama, dan kabari EduXpert jika kamu sudah mendapatkannya. Mungkin di masa depan, namamu akan menjadi bagian dari daftar ini, jika berhasil meraih Nobel dan memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.
Namun sebelum sampai ke sana, mulailah dengan kuliah di luar negeri terlebih dahulu! Di luar negeri, misalnya Amerika Serikat atau Inggris, kamu akan memiliki kesempatan untuk belajar ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru. Fasilitas yang ditawarkan juga pastinya lebih lengkap dan dapat menunjang proses belajar kamu.
By the way, bulan November 2025 ini lagi banyak event pendidikan internasional. Jika masih binggung dan butuh konsultasi lebih lanjut, bisa datang ke event dan langsung komunikasi secara langsung dengan representatif universitas favorit kamu. Klik gambar untuk informasi lebih lanjut atau pendaftaran terkait event-nya ya!


Memiliki pertanyaan lebih lanjut? Klik tombol WhatsApp berikut untuk terhubung dengan CS kami:
Jangan lupa untuk follow media sosial kami, agar kamu tidak ketinggalan informasi beasiswa, promo, event, dan lain sebagainya. Klik link berikut untuk menuju media sosial kami:
Instagram: @edupacindonesia
Ikuti terus artikel kami selanjutnya, Thank You!

