Halo, Sobat Edupac! Masih ingat kapan terakhir kali kamu ikut study tour? Bagi banyak pelajar, mendengar kata study tour saja sudah cukup untuk menumbuhkan semangat. Ada rasa penasaran tentang tempat baru yang akan dikunjungi, pengalaman seru yang menanti, hingga momen kebersamaan dengan teman-teman yang selalu menjadi cerita tak terlupakan. Namun, di balik semua keseruannya, study tour sebenarnya menyimpan manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar jalan-jalan bersama teman. Meski begitu, masih banyak yang mengira bahwa study tour hanya berarti belajar sambil berwisata. Padahal, konsepnya jauh lebih dalam dan berbeda dari field trip. Jadi, apa sih yang membedakan keduanya? Dan apa sebenarnya makna study tour yang sesungguhnya?
Yuk, kita bahas lebih lanjut!
Apa itu Study Tour?
Study tour adalah program pembelajaran terstruktur yang menggabungkan kegiatan akademik di kelas dengan perjalanan edukatif ke luar negeri atau ke lokasi tertentu. Program ini tidak dianggap sebagai kegiatan tunggal, tetapi sebagai dua bagian yang saling melengkapi—yakni komponen mata kuliah dan kegiatan perjalanan—yang masing-masing memiliki prosedur, persyaratan, dan kebijakan administrasi sendiri.
Perjalanan dalam study tour mencakup seluruh aktivitas perpindahan peserta, mulai dari berangkat, menjalani kegiatan di lokasi tujuan, hingga kembali lagi ke tempat asal. Biasanya, program ini diadakan saat liburan akademik, seperti summer course pada bulan Juni hingga Agustus, dan umumnya berlangsung selama satu hingga empat minggu. Selain itu, study tour juga harus diselesaikan dalam satu periode akademik yang sama.
Pelaksanaannya mengikuti aturan institusi, mulai dari perizinan, manajemen risiko, hingga ketentuan akademik yang harus dipenuhi. Di dalamnya terdapat tiga tahap penting:
- persiapan sebelum keberangkatan,
- pengalaman belajar langsung di lokasi,
- serta kegiatan refleksi setelah peserta kembali.
Melalui susunan yang terencana ini, study tour tidak hanya menjadi aktivitas bepergian, tetapi juga sarana pembelajaran yang dapat membentuk pemahaman, keterampilan, dan perkembangan diri secara mendalam.

Manfaat Mengikuti Study Tour
Di balik keseruannya, study tour menawarkan banyak manfaat penting bagi perkembangan akademik dan pribadi siswa. Berikut beberapa di antaranya:
1. Meningkatkan Pemahaman Akademik
Study tour membantu siswa memahami materi pelajaran dengan cara yang lebih nyata dan mudah dibayangkan. Melalui kegiatan ini, teori yang biasanya hanya dibahas di kelas dapat berubah menjadi pengalaman langsung yang bisa dilihat dan dialami sendiri oleh siswa. Berhadapan langsung dengan objek, tempat, atau situasi yang dipelajari membuat informasi terasa lebih jelas dan mudah diingat. Selain itu, siswa juga berkesempatan bertemu narasumber, mengunjungi lembaga penelitian atau industri, dan melihat langsung bagaimana ilmu yang mereka pelajari digunakan dalam kehidupan nyata. Pengalaman tersebut menumbuhkan keterhubungan antara teori dan praktik, sehingga pemahaman siswa terhadap materi menjadi lebih mendalam.
2. Mengembangkan Kompetensi Global & Empati
Melalui study tour, peserta berkesempatan untuk berinteraksi langsung dengan budaya, tradisi, dan gaya hidup yang berbeda dari lingkungan sehari-hari mereka. Pengalaman ini membantu menumbuhkan empati, toleransi, serta kesadaran akan keberagaman. Ketika siswa berada di tengah masyarakat dengan perspektif dan kebiasaan baru, mereka mulai melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas. Pada akhirnya, pengalaman tersebut tidak hanya memperkaya wawasan mereka, tetapi juga dapat mengubah cara mereka memandang diri sendiri dan posisi mereka dalam dunia yang semakin terhubung.
3. Mendorong Pertumbuhan Pribadi
Study tour juga dapat membantu perkembangan pribadi para peserta. Saat berada di tempat yang baru, siswa perlu menyesuaikan diri dan membuat keputusan sendiri, sehingga rasa percaya diri mereka tumbuh dengan sendirinya. Lingkungan yang berbeda dari rutinitas sehari-hari mendorong mereka untuk memahami apa saja kelebihan dan keterbatasan yang mereka miliki, sekaligus memberi kesempatan untuk terus belajar. Selain itu, perjalanan dan tantangan yang dihadapi bersama teman-teman membuat hubungan sosial menjadi lebih dekat dan memperkuat rasa kebersamaan. Bagi siswa yang berasal dari latar belakang kurang beruntung, pengalaman ini sering kali membuka wawasan tentang peluang yang sebelumnya terasa jauh, sehingga mereka mulai melihat masa depan dengan cara yang lebih optimis.
4. Melatih Keterampilan
Study tour juga menjadi wadah bagi siswa untuk melatih berbagai keterampilan penting, seperti kemampuan memecahkan masalah, bekerja sama dalam kelompok, berkomunikasi dengan efektif, serta berpikir secara kritis dalam menghadapi situasi baru. Selama mengikuti kegiatan ini, mereka juga belajar mengatur waktu dan menjadi lebih mandiri, terutama ketika study tour dipadukan dengan pembelajaran berbasis proyek yang menuntut mereka untuk merencanakan, mengambil keputusan, dan menyelesaikan tugas secara langsung di lapangan.
Perbedaan Study Tour dan Field Trip
Meskipun study tour dan field trip sama-sama dilakukan di luar kelas, keduanya memiliki perbedaan yang jelas dalam hal tujuan, cara pelaksanaan, dan tingkat kedalaman belajarnya. Berikut selengkapnya:
1. Tujuan dan Intentionalitas
Field trip biasanya dilakukan untuk memberikan pengalaman langsung yang bersifat umum, sehingga siswa dapat melihat atau mengenal sesuatu di luar kelas tanpa tuntutan akademik yang mendalam. Kegiatan ini umumnya lebih sederhana dan sering melibatkan observasi pasif, di mana peserta hanya mengamati apa yang ada di lokasi kunjungan. Sebaliknya, study tour disusun dengan tujuan pembelajaran yang lebih terarah dan dirancang untuk membantu peserta memahami materi tertentu secara lebih mendalam atau menjawab kebutuhan pengetahuan yang spesifik. Kegiatan ini bersifat lebih terencana dan selalu dikaitkan dengan kurikulum, sehingga setiap aktivitas yang dilakukan memiliki alasan dan sasaran akademik yang jelas.
2. Struktur Pembelajaran
Field trip biasanya berlangsung dengan cara yang cukup sederhana. Setelah sedikit persiapan sebelum hari keberangkatan, siswa diajak untuk mengamati langsung apa yang ada di lokasi kunjungan, lalu kegiatan ditutup dengan peninjauan kembali yang singkat ketika mereka sudah kembali ke kelas. Karena itu, field trip tidak selalu menuntut proses belajar yang mendalam atau aturan akademik yang terlalu ketat. Di sisi lain, study tour disusun dengan alur pembelajaran yang lebih rapi dan berjenjang melalui tahap Preparation–Experience–Response. Peserta biasanya menerima materi pendahuluan, mengikuti seminar, atau melakukan riset sebelum berangkat, kemudian menjalani pengalaman belajar langsung di lapangan. Setelah kembali, mereka masih harus melakukan refleksi, menyelesaikan proyek, atau mengikuti penilaian formal untuk memperkuat pemahaman dan memastikan tujuan pembelajaran tercapai dengan baik.
3. Durasi & Ruang Lingkup
Field trip umumnya berlangsung singkat, biasanya hanya dalam satu hari dan dilakukan di lokasi-lokasi yang dekat dengan sekolah. Kegiatan ini relatif sederhana dan tidak memerlukan banyak persiapan, sehingga lebih mudah dilaksanakan. Sebaliknya, study tour memiliki durasi yang lebih panjang, dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu, dan sering kali melibatkan perjalanan ke wilayah lain atau bahkan ke luar negeri. Karena cakupannya lebih luas, study tour membutuhkan perencanaan yang jauh lebih matang, mulai dari pengaturan administratif dan kelengkapan akademik hingga kesiapan logistik untuk memastikan seluruh kegiatan dapat berjalan dengan aman dan efektif.
4. Kedalaman Keterlibatan Peserta
Dalam kegiatan field trip, siswa biasanya berperan sebagai pengamat. Mereka mengikuti alur kunjungan yang telah disiapkan, mendengarkan penjelasan, dan melihat langsung objek atau tempat yang dikunjungi tanpa tuntutan untuk melakukan analisis yang mendalam. Berbeda dengan itu, study tour menempatkan peserta dalam peran yang jauh lebih aktif. Selama kegiatan berlangsung, mereka tidak hanya mengamati, tetapi juga melakukan penelitian sederhana, menganalisis informasi yang ditemukan, serta mengerjakan tugas lapangan yang dipandu oleh guru atau narasumber ahli. Pendekatan yang lebih aktif ini membuat siswa terlibat langsung dalam proses belajar dan memahami materi secara lebih komprehensif.
5. Tingkat Risiko dan Regulasi
Field trip umumnya memiliki tingkat risiko yang rendah karena biasanya dilakukan di lokasi yang dekat dan mudah dijangkau, sehingga pengaturan yang diperlukan pun relatif sederhana. Sebaliknya, study tour membawa tanggung jawab yang lebih besar karena sering melibatkan perjalanan jauh, termasuk ke luar negeri. Kegiatan ini menuntut proses penilaian risiko yang lebih rinci, penyusunan itinerary yang terencana, serta pengaturan waktu antara kegiatan resmi dan waktu bebas agar semuanya tetap aman dan terkontrol. Selain itu, study tour juga membutuhkan standar keselamatan yang lebih ketat, perlindungan asuransi, dan pemenuhan berbagai ketentuan akademik serta administratif untuk memastikan program berjalan sesuai aturan.
Penutup
Pada akhirnya, study tour bukan sekadar perjalanan menyenangkan, tetapi juga pengalaman belajar yang membantu siswa tumbuh di berbagai aspek—mulai dari pemahaman akademik, keterampilan sosial, hingga pengembangan diri. Dengan persiapan yang baik, kegiatan ini dapat menjadi momen berharga yang membuka wawasan, membentuk karakter, dan mempersiapkan seseorang menghadapi masa depan yang lebih baik.
Yuk, ikuti program summer course ke luar negeri dari Edupac Indonesia! Bisa lakukan pendaftaran dengan klik link berikut: www.edupac-id.com/programs/summer-course/
Atau klik tombol WhatsApp berikut untuk terhubung dengan Customer Service:
Jangan lupa untuk follow media sosial kami, agar kamu tidak ketinggalan informasi beasiswa, promo, event, dan lain sebagainya. Klik link berikut untuk menuju media sosial kami:
Instagram: @edupacindonesia
Ikuti terus artikel kami selanjutnya, Thank You!

